subscribe: Posts | Comments | Email

RABUN DEKAT ALIAS HYPERMETROPIA/HYPEROPIA

2 comments
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Delicious
Bookmark this on Digg

Satu lagi artikel dari mas Denny O sebagai pelengkap untuk topik ini yaitu Hypermetropia dan segala sesuatunya yang sudah saya singgung secara singkat dan akan di ulas di bawah lebih lengkaop dan kelihatannya berseri. hehehe silakan di lanjutkan bacanya, dan tks to mas Denny O. Anda juga bisa mengirim artikel apa saja dan akan say amuat di “koran” online ini.

HypermetropiaKecenderungan khalayak umum berpandangan bilamana ukuran kacamata/lensa kontak +( baca plus) merupakan identifikasi bahwa hanya terjadi pada orang-orang lanjut usia. Minimnya informasi dan penyebaran pengetahuan baik di kalangan praktisi kepada para pasien atau antar pasien sendiri telah membuat cara berpikir bila ukuran + sama dengan orang tua. Pada pelajaran di sekolah mengenai fisika optik, kita akan menemui sub pokok bahasan mengenai mata rabun dekat atau hypermetropia. Penjelasan secara umum adalah sebuah kondisi dimana sinar yang masuk ke mata sejajar sumbu utama tidak jatuh tepat di retina melainkan dibelakang retina. Bagaimana penjelasan secara ilmiah sesuai kesepakatan yang telah disepakati di kalangan praktisi kesehatan mata.

Hypermetropia atau hyperopia adalah sebuah keadaan dimana bentuk bola mata lebih pendek dari normal atau lensa mata yang tidak cukup bulat, sehingga akan mengakibatkan kesulitan dalam upaya pemfokusan obyek yang berada pada jarak dekat. Pada kasus tertentu dapat mengakibatkan ketidakmampuan mata dalam mengidentifikasi obyek pada jarak jauh juga. Ketika obyek mendekat ke arah mata, maka indera penglihatan perlu berupaya untuk menambahkan kekuatannya dalam menjaga agar obyek dapt diproyeksi oleh retina. Jika kekuatan yang dihasilkan oleh bagian mata seperti kornea dan lensa kurang atau bahkan tidak mencukupi, maka bayangan obyek yang terproyeksi oleh retina akan nampak kabur.

Keadaan ini juga tergolong dalam klasifikasi kelainan refraksi (kelainan kemampuan pembiasan) yang menjadi bagian penanganan kesehatan mata. Penyandang kelainan refraksi hypermetropia sering mengalami penglihatan yang kabur, mata lelah, kesulitan(disfungsi) akomodasi, Kesulitan binokuler ( penglihatan dengan 2 mata ), mata malas ( baca amblyopia ) dan strabismus atau mata juling. Sebagaimana diterangkan di atas, rabun dekat sulit dibedakan dengan presbyopia ( =mata tua ) menurut asumsi khalayak umum. Meski keduanya juga memiliki keluhan yang sama, yaitu mengalami kesulitan dalam melihat obyek berjarak dekat. Faktanya, presbyopia adalah keadaan dapat melihat obyek jauh ( pada umumnya ) tetapi mengalami kesulitan melihat dekat dikarenakan amplitudo akomodasi menurun. Situasi ini dipicu oleh perubahan alami berkaitan dengan usia seseorang pada media lensa mata. Di samping itu, para ahli sepakat bahwa keadaa presbyopia umumnya dimulai saat seseorang berusia 40 tahun. Walau tidak sedikit kasus presbyopia terjadi lebih cepat/lambat berkisar antara 1-5 tahun sebelum atau sesudah usia 40 tahun tersebut. Selain itu, penyandang rabun dekat dapat juga mengalami presbyopia bila ia sudah menginjak usia yang tersebut di atas.

Penyebab hyperopia biasanya genetis , sebagaimana kondisi bola mata yang agak pendek dan atau kornea agak datar. Namun ini juga dapat terjadi pada orang-orang pasca operasi katarak( baca kekeruhan lensa mata ) di usia dini. Secara garis besar, mereka mengalami kendala saat melihat obyek pada jarak dekat. Kisaran dekat sendiri masih dapa t diperdebatkan, namun kebanyakan para ahli menyetujui antara 30 cm- 70cm.

Klasifikasi hyperopia secara klinis terbagi atas 3 hal,yakni :

1. Hyperopia Simple

2. Hyperopia Patologi

3. Hyperopia fungsional

Penjelasan mengenai ketiga hal tersebut akan kami sajikan pada artikel berikutnya. Beberapa literatur juga mengelompokkan hypermetropia atas beberapa hal seperti hypermetropia manifest, absolut, laten, dll. Dalam mengenali dan menyimpulkan rabun dekat, praktisi akan melakukan tes tajam (=kemampuan ) penglihatan. Setiap praktisi memiliki cara dan metode yang mungkin saja berbeda. Penulis akan coba kupas masalah ini pada artikel selanjutnya.

Kebanyakan praktisi akan menyarankan para penyandang kelainan refraksi untuk menggunakan kacamata atau lensa kontak dengan ukuran plus. Khusus Lensa kontak dengan ukuran plus amat jarang ditemui. Bahkan untuk merk tertentu harus dipesan lebih dari 1 minggu yang dikarenakan proses pembuatan tidak dilakukan di indonesia. Lensa plus berfungsi untuk mendekatkan proyeksi obyek agar tepat jatuh di retina.Kemajuan teknologi juga menawarkan operasi laser ( baca LASIK ) sebagai salah satu penanganan rabun dekat.

Jangan berasumsi mata berukuran plus milik para lanjut usia. Mari kita benahi dan memperdalam pengetahuan, serta cara penyampaian informasi. Agar suatu hari kelak, kesalahpahaman ini dapat di minimalisir. Sehingga tatanan kesadaran kesehatan mata terbentuk secara madani. Bukan hanya praktisi yang memperoleh manfaatnya, tetapi juga anak-cucu kita. Moga artikel ini bermanfaat bagi anda semua.

Kata kunci sehingga sampai di artikel ini adalah:

apa itu hypermetropia (2), apakah maksud hyperopia (1), snelen bagi rabun dekat (1)
  1. amrasika says:

    Bila memang presbyop n hyperopia adalah sama-sama masalah kontraksi mata, kenapa di lasik dapat memperbaiki hyperopia, tetapi tidak dapat perbaiki mata presbyop? karena biasanya penderita myopia(minus)yang sudah lama menyandang kacamata tebal akan enggan untuk memakai kacamata presbyop lagi setelah lasik. Bila setelah lasik harus juga pakai kacamata presbyop lagi, mending tidak berbuat apa-apa, tidak perlu lagi menghabiskan waktu,biaya dan menderita sakit untuk operasi lasik

    • @Amrasika:
      Lasik itu hanya berproses di kornea.
      Myopia, Hyperopia dan astigmat itu penyebab utama di kornea, sedangkan presbyopia itu berhubungan dengan lensa. kecuali lasik Presbylasik.

      jadi beda tempatnya.
      Btw Operasi lasik tidak sakit.. tidak ada yang teriak atau menahan sakit, bahkan ada yang tertawa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco