subscribe: Posts | Comments | Email

Myopia (Mata Minus) Menghantui Anak Kita

0 comments
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Delicious
Bookmark this on Digg

Ini artikel dari mas Denny Oktavianto, dimana moment terlaris terbanyak dari judul film yang udah hampir selesai di tahun 2009 tentang horor dan hantu, sekarang dibuat judul artikelnya… ta

kut nggak….? he he he

Myopia pada anakTelinga kita mungkin sudah akrab dan terbiasa dengan istilah myopia. Namun tak ada salahnya bila saya memaparkan kembali dalam rangka menunjang artikel ini.

Myopia berasal dari bahasa yunani “muopia” dan didefinisikan sebagai rabun jauh atau nearsightedness dalam bahasa inggris.  Myopia merupakan kelainan refraksi pada bagian mata sehingga sinar yang masuk akan menghasilkan bayangan yang difokuskan di depan retina dengan akomodasi secara rileks.


Penyandang kelainan ini dapat melihat obyek yang berada dalam jarak dekat secara jelas tapi tidak untuk jarak jauh. Bentuk bola mata yang lebih panjang dari normal, bentuk lengkung kornea yang agak datar, sehingga bayangan terfokus di badan kaca bukan di retina. Keadaan ini berbanding terbalik dengan kondisi pada penyandang kelainan hypermetropia.
Tapi pernahkah anda menyadari bahwasanya rabun jauh sudah menjadi endemik tersendiri. Walaupun belum ada riset yang mendukung secara 100% bila dapat diturunkan atau bahkan menular, namun berkurangnya lahan kosong dan hijau, kebiasaan hidup yang lebih berorientasi di dalam rumah, intensitas penggunaan penglihatan dekat yang lebih banyak dari penglihatan jauh. Secara general anak-anak pada saat ini lebih suka bermain bola di playstation dibandingkan menghabiskan bermain bola di lapangan terbuka. Pola hidup yang jauh berubah dan diimbangi dengan pola makan dan bahan dasar makanan turut memicu keadaan yang dapat dikatakan abnormal ini begitu mencengkeram setiap langkah anak. Mungkin di masa lalu para orang tua dikhawatirkan dengan penyakit cacingan, sekarang hal ini sedikit demi sedikit mulai berubah tanpa disadari.
Di seluruh dunia, prevalensi kelainan refraksi diperkirakan 800 juta dari 2.3 milyar jumlah populasi yang ada. Kelainan myopia diindikasikan atas berbagai macam variabel seperti usia, jenis kelamin, etnik, pekerjaan, lingkungan dan banyak faktor mendukung lainnya.  Seperti di cina, india dan malaysia, lebih dari 41% remaja menyandang kelainan ini dengan tingkat koreksi -1.00 Dioptri dan lebih dari 80% dengan ukuran -0.50 Dioptri.

Penelitian terbaru institusi di Inggris melansir hal yang lebih mengejutkan dimana 50% penduduk inggris berkulit putih dan 53.4% penduduk Inggris keturunan Asia mendapatkan mata mereka mengalami rabun jauh.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Rasa-rasanya angka-angka tersebut akan tidak berarti bila kita tidak membandingkannya dengan postulat-postulat ( baca dalil atau alasan pembanding ) yang ada di indonesia.  Pada tanggal 24 November 2009, saya dan tim dari Helen Keller International ( sebuah LSM yang intensif dalam program-program kesehatan dalam hal ini mata ) mencoba melakukan penelitian dengan responden berasal dari sebuah sekolah dasar di bilangan menteng atas.  Jumlah responden 334 orang mencakupi kelas 1 sampai dengan 6 dimana 13 diantaranya pernah menggunakan kacamata atau memeriksakan matanya baik ke optikal maupun ke dokter spesialis mata.

  • 110 anak mengalami myopia dengan koreksi -0.50 Dioptri atau normal bila kita mengacu pada Standar WHO sebagai badan kesehatan dunia.
  • 251 anak lainnya perlu dikoreksi antara -0.75 Dioptri s/d -2.00 Doptri dan 10 lainnya membutuhkan koreksi di atas -2.00.
  • Bisa pula dikatakan bahwa lebih dari 500 mata mengalami kelainan myopia.
  • Bila dipresentasikan maka lebih dari 50% anak didik butuh koreksi myopia. Lalu bagaimana dengan populasi indonesia secara keseluruhan, maka hasil yang mencengangkan akan membuka mata pikiran anda pada umumnya dan pemerintah pada khususnya dalam hal kepedulian kesehatan mata para generasi penerus bangsa.
  • Bahkan beberapa peneliti mencap asia 70-90% ,menyandang kelainan ini dan merupakan jumlah terbesar di dunia. Sedangkan benua Afrika hanya 10-20% dan merupakan terkecil didunia.

Arthur Jensen, seorang praktisi mempercayai bahwasanya ada indikasi antara myopia dengan IQ ( tingkat intelegensi ) memiliki hubungan ataupun dipengaruhi oleh faktor gen. Tidak ada mekanisme secara spesifik menerangkan tentang hubungan tersebut. Namun ada sebuah penelitian yang menunjukkan penyandang myopia akan bertambah nilai koreksinya seiring dengan tingkat pendidikan seseorang dan banyak penelitian lainnya menunjukkan keterkaitan yang erat antara myopia dan IQ. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arthur Jensen bahwa rata-rata para penyandang myopia memiliki nilai IQ lebih tinggi 7-8& dibandingkan populasi lainnya.
Menurut etiologi dan phato genesis sampai saat ini tidak ada 1 teori pun yang dapat memberikan penjelasan dengan memuaskan perihal pengaruh panjang bola mata dan nearsightedness. Tapi pada pertengahan abad 20, kebanyakan dokters spesialis mata dan optometris percaya apabila myopia disebabkan oleh intensitas kerja yang menggunakan penglihatan dekat yang dapat diklasifisikan sebagai keadaan ” didapat” dan pertambahan nilai koreksi karena faktor pertambahan usia. Pada saat ini banyak ahli dan praktisi berpendapat bila kelainan ini disebabkan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Akan tetapi terdapat dua hal yang mendasar dan di gadang-gadang sebagai penyebabnya yaitu faktor kehilangan atau berkurangnya fungsi retina dan media refrakta pada mata yang tidak fokus.  Opsi ini terjadi karena sinar yang masuk ke indera penglihatan difokuskan tidak secara tepat di retina oleh sub bagian mata.
Begitu banyak hal yang dapat diungkap namun pada dasarnya perlu adanya kewaspadaan bagi para orangtua dan guru serta praktisi dalam mengantisipasi dilema ini. Lingkungan, pola hidup, pola makan, dan terutama bagi yang berusia sekolah dan kuliah harus lebih berancang-ancang memaknai perilaku mereka. Bukan tidak mungkin pemandangan ini akan menjadi hal biasa sebagaimana masyarakat di masa lalu begitu paranoid bila anak mereka menderita penyakit cacingan.

Saatnya kita memberikan pemahaman bila menggunakan kacamata terutama bagi anak usia sekolah bukanlah sebuah aib atau penurunan kasta sosial. Tapi lebih dari sekedar estetika kacamata juga merupakan alat rehabilitisi fungsi penglihatan.

Daftar pustaka:
1. Online Etymology Dictionary
2. Borish, Irvin M. (1949). Clinical Refraction. Chicago: The Professional Press.
3. Duke-Elder, Sir Stewart (1969). The Practice of Refraction (8th ed.). St. Louis:The C.V. Mosby Company. ISBN 0-7000-1410-1.
4. Wikipedia
5. Hasil riset HKI
6. gambar dari www.myopia.org

SUDAH PERNAH TAHU YANG INI...? ... PENASARAN KHAN...?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco