By Kastam in Mata on 25-06-2009 | view : 1,455 kali |
Tags: binokuler, fusi, Mata, motor, otak, penglihatan, Retina
Sebelum masuk ke pembahasan tentang FUSI – Penggabungan, sekilas disampaikan mengenai penglihatan otak, yaaa bukan mata tapi otak, apa maksudnya…?
Definisi/ Pengertian Penglihatan Otak adalah bahwa Otak mampu mengolah informasi menjadi persepsi penglihatan. Sedang Cacat Penglihatan Otak meliputi:
- Low Vision
- Visual Impairment
- Penglihatan Terbatas
- Penglihatan Sisa
Kemudian kita bisa ketahui juga tentang penglihatan dan cahaya
- Penglihatan mesopik dimana cahaya redup seperti disenja hari
- Cacat penglihatan mesopik adalah rabun senja (nictalopia) ditemukan pada avitaminosis A
Penglihatan skotopik dimana cahaya sangat kurang, seperti dimalam hari. Cacat penglihatan skotopik adalah gangguan:
- Adaptasi gelap
- Akomodasi
- Untuk mengetahui keadaan ini diperluakan tes Sensitifitas Kontras
- Ditemukan pada rabun malam/ Miopia malam
Sedang Penglihatan detil merupakan fungsi makula lutea dan disebut juga : “penglihatan sentral”
Fungsi inilah yang biasa diukur dalam pemeriksaan refraksi dengan nama : “Tajam Penglihatan” (visual acuity)
Cacat penglihatan detil adalah : apabila dengan lensa koreksi terbaik, Visus tidak mencapai 100%
Selanjutnya, kita lanjutkan dengan topik FUSInya yaaa..
Apa itu FUSI…?
Fusi adalah hubungan dari dua hal yang sebenarnya tidak berhubungan langsung, nah loh… apa maksudnya..?
Definisi Fusi secara bahasa
Penggabungan; Peleburan; Koalisi, Kerja-sama sensorik dan motorik yang serasi diantara kedua mata, sehingga terjadi penglihatan binokuler tunggal yang tetap.
Pada proses Fusi, selain komponen sensoris terdapat pula komponen motoris atau pengaturan dengan gerakan
Sensory Fusi adalah kemampuan untuk mengapresiasikan dua gambar yang hampir sama yang dilihat oleh masing-masing mata diterjemahkan menjadi satu. Satu gambar itu adalah sebagai kondisi adanya korespondensi dari retina
Agar sensory fusi itu terjadi maka gambar tidak hanya harus diletakkan pada area korespondensi retina namun juga harus benar-benar sama dalam ukuran, bright-nya dan ketajamannya. Gambar yang tidak sama akan mempengaruhi fusi.
Pada proses Fusi, selain komponen sensoris terdapat pula komponen motoris atau pengaturan dengan gerakan.
Motor Fusi, Otak memiliki kesanggupan untuk mengirimkan perintah-perintah kepada otot-otot mata untuk meluruskan arah dari mata yang berubah arah.
Fusi ditingkat motoris ini dapat menggeser bayangan benda yang sedang dipandang, yang tadinya tidak tepat jatuh di Fovea, menjadi jatuh tepat di Fovea dengan membuat kedua mata menjadi searah.
Agar kedua bayangan dari suatu benda di lingkungan penglihatan yang jatuh di Retina itu dapat disatukan oleh Otak menjadi satu bayangan:
- Maka kedua mata harus baik arahnya
- Agar bayangan-bayangan itu jatuh pada bagian-bagian Retina yang sesuai
Bila kedua mata cenderung untuk bergulir dan akan memisahkan diri kearah yang berbeda, maka komponen motoris dari Fusi akan mengadakan penyesuaian yang diperlukan agar mereka tetap searah.
Mekanisme kompensasi ini dapat melelahkan penderita dan menimbulkan rasa sakit kepala dan keletihan mata. Bila sudah letih, penderita mungkin tidak mau berusaha menterapkan daya Fusi Motorisnya, dan membiarkan kedua matanya berubah arah. Dalam posisi beristirahat ini penderita akan mengalami Penglihatan Ganda (Diplopia).
Satu lagi ada istilah SIMULTAN PERSEPSI
Misal Visus OD = 1.00 maka Fiksasi Fovea dan Visus OS ≠ 1.00 maka Fiksasi ExtraFovea, nah apakah terjadi Penglihatan Binokuler.
Penglihatan Binokuler akan terbentuk apabila :
- Kedua mata dapat melihat secara serentak dan dalam waktu bersamaan sedemikian rupa, dimana masing-masing bayangan yang terbentuk di Retina diteruskan ke otak sebagai suatu persepsi penglihatan, yang dalam hal ini kita sebut : “Persepsi Serentak” (Simultant Perception).
- Bayangan-bayangan dari kedua Retina itu dapat menghasilkan suatu penglihatan dimana benda terlihat ada satu seperti yang sebenarnya ada
Binocular Single Vision (terjadi karena adanya Fusi) jika OD > OS ada kecenderungan saat melihat lebih banyak menggunakan OD dari pada OS. Hal ini dapat melelahkan penderita dan menimbulkan rasa sakit kepala dan keletihan mata (Asthenopia). Bila sudah letih, penderita mungkin tidak mau lagi menterapkan daya Fusi Motorisnya, dan membiarkan kedua matanya berubah arah.
Binocular Double Vision = Diplopia (terjadi bila Otak tidak lagi dapat mempertahankan Fusi lebih lanjut). Apabila hal ini tetap berlanjut, maka terjadi : Supresi.
Amplitudo Pergeseran FUSI
Rentang pergeseran mata oleh komponen motoris dari Fusi ini dapat diukur. Pengukuran ini disebut “Fusional Vergence Amplitude” (Amplitudo Pergeseran Fusi).
Amplitudo pada bidang Horizontal (terutama arah Konvergensi) merupakan amplitudo yang terbesar jaraknya, dan amplitudo yang terkecil adalah bidang vertical.
Kelainan atau deviasi yang dapat diatasi oleh perkisaran Fusi ini biasanya kecil derajadnya. Deviasi mata yang masih bisa diatasi ini sehingga kedua mata tetap searah disebut : Phoria
Kedua mata yang lurus sempurna kedepan, yang tidak membutuhkan daya perkisaran Fusi untuk meluruskan dan men-searahkan kedua mata disebut mata yang Orthophorik
Deviasi arah mata yang tidak bisa diluruskan oleh daya perkisaran Fusi disebut : Tropia
Popularity: 5%












WaW, kesannya seminar banget ya Mas. Nyesel waktu itu gak ikutan. Kalo ditambain sama gambarnya mungkin jd lebih sip ya Mas. Mohon izin u/ dikopi.
tq.
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
June 29th, 2009 at 11:31 am
@anggoro,
Lha emang ini copynya seminar….. he he
silakan di copy… gambarnya mesti dicarikan… he he he
Tanggapi Komentar ini