Artikel kali ini adalah salah satu hasil seminar di RSUPN/RSCM Jakarta , 5 – 7 Juni 2009 yang lalu, mungkin bagi pengunjung yang telah ikut sudah tahu, tentunya untuk mengingatkan kembali dan bagi yang waktu itu tidak ikut baiklan saya sampaikan yang pertama adalah topik Refraksi dan Penglihatan Binokuler.
Materi slidenya sangat panjannnnng sekitar 132 slide, dan saya sebagai pembawa acara membatas tiap nara sumber hanya 45 menit maka tentu tidak bisa dikupas semuanya. Baiklah berikut sebagian (semoga besar) yang bisa saya duplikasikan ke anda.
Kita dianugerahi dua buah mata yang sangat tidak ternilai dan penuh dengan misteri. Dalam keadaan normal, kita melihat obyek dengan dua mata, akan tetapi obyek terlihat sebagai satu obyek saja, seperti apa yang ada.
Visus Binokuler akan lebih baik sekitar setengah sampai dengan satu baris dibandingkan dengan Visus Monokuler pada skala Snellen
Apabila Visus Binokuler = Visus Monokuler, hal ini mengindikasikan adanya problem pada Penglihatan Binokuler. (Pardhan & Elliott, 1991)
KEUNTUNGAN MEMILIKI PENGLIHATAN BINOKULER
- Keuntungan pertama dan yang utama dari Penglihatan Binokuler adalah : “Penglihatan Tunggal” (single vision).
- Penglihatan Binokuler Tunggal (Binocular Single Vision) menghasilkan : “stereopsis”
- Sebagai “Barometer” dari Status Penglihatan Binokuler
- Berperan untuk menjaga keseimbangan antara Sensoris Fusi – Motoris Fusi
- Lapang Penglihatan (the field of vision) yang lebih luas (30° lebih luas dari pada lapang penglihatan Monokuler)
- Meniadakan akan terlihatnya bintik buta (blind spot)
- Ibarat mobil merupakan ban serep apabila salah satu mata mengalami kecelakaan
Berbagai komponen yang membentuk penglihatan binokuler ternyata mempunyai besaran rentang normal dan besaran tidak normal. Oleh karena itu, penanganan kelainan penglihatan binokuler memerlukan keterampilan dan pemahaman yang memadai mengenai : Teknis pemeriksaan dan Penafsiran hasil pemeriksaan
Methoda pemeriksaan dan pemilihan jenis peralatan yg tepat dapat membantu praktisi untuk menafsirkan nilai hasil pemeriksaan dan tata laksana dengan memadai. Sehingga pada akhirnya tata laksana akan berhasil dengan baik.
Itulah abstrak yang diberikan oleh Bapak ketua Iropin saat ini yaitu Bapak Haryono Padmowardoyo RO, Orthoptis, FIACLE.
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa slidenya ada 132 dan mengupas mulai dari dasar pemeriksaan sampai akhir sebagai wewenang kita para Ro yaitu pemeriksaan Binokuler maka mungkin kali bertahap dan di lain artikel akan dilanjutkan. Namun perlu diketahui sebenarnya sebagaian juga sudah pernah dibahas di blog ini mengenai pemeriksaan refraksi hanya dengan bahasa yang berbeda tentunya, namun isi dan tujuannya sama.
Koreksi kelainan refraksi bertujuan untuk memulihkan gangguan penglihatan jauh dengan patokan :
- Lensa koreksi yang DIBERIKAN menghasilkan visus terbaik
- Pada Miopia dikoreksi dengan lensa minus terkecil/terlemah
- Pada Hipermetropia dikoreksi dengan lensa Plus terbesar/ terkuat
agar mata tidak berakomodasi dan harus dapat mewujudkan Penglihatan Binokuler yang efisien dan nyaman.
Selanjutnya jika hal itu sudah dipahami mari kita lanjutkan ke arah bagaimana seharusnya mulai memeriksa pasien kita.
Prosedur Pemeriksaan Refraksi
- Anamnesa Refraksi
- Pemeriksaan Pendahuluan Refraksi
- Pemeriksaan Refraksi
- Obyektif
- Subyektif
- Pemeriksaan Penglihatan Binokuler
- Analisa Refraksi/ rencana tindakan
- Pemeriksaan tambahan/ lanjutan
- Konsultasi/ Rujukan
Ketujuh item diatas adalah pokok pekerjaan ketika kita menghadapi seorang pasien, jadi mesti dilakukan, hal baru yang mungkin masih terlewatkan adalah item no. 4 yaitu Pemeriksaan Penglihatan Binokuler dan perlu diketahui bahwa jenis pemeriksaan ini sekarang sudah menjadi wewenang kita para Refraksionis Optisien (RO)
Selanjutnya mari kita kupas satu-persatu dari Prosedur Pemeriksaan Refraksi itu.
- Anamnesa Refraksi, pada tahap ini yang kita lakukan adalah:
- Gejala/Keluhan, keadaan yang dirasakan oleh pasien dan ini bisa ditanyakan ke pasien langsung
- Tanda-tanda, kondisi ini bisa dilihat oleh pemeriksa, misal matanya merah dsbnya
- Riwayat Okuler pasien/ klien, riwayat yang sudah pernah terjadi
- Riwayat Okuler dlm keluarga pasien/ klien , >>> pada tahap no. 1 untuk tahap anamnesa ini praktis kita lakukan guna untuk memberi petunjuk kepada kita kira-kira seperti apa kelainan pasien kita ini
- Pemeriksaan Pendahuluan Refraksi,
- Pemeriksaan Tajam-penglihatan, dalam hal ini UNCVA (Uncorrected Visual Acuity) – AV (Acies Visus)
- Identifikasi posisi Bolamata
- Identifikasi gerak Bolamata
- Pengukuran jarak antar Pupil
- Identifikasi kondisi Mata :
- Fungsi Pupil
- Fungsi Makula
- Skrining Lapang penglihatan
- Penglihatan Warna
- Skrining tekanan Bolamata , >>>> pada tahap no. 2 ini kebanyakan hanya dilakukan di klinik atau rumah sakit, namun untuk di optik tidak semua dilakukan, tentunya ini kendala dalam hal peralatan, begitu juga pada klinik mata yang bukan Rumah sakit mata Umum, misal klinik mata yang khusus maka tidak semua alat ada (bisa jadi)
- Pemeriksaan Refraksi, ini adalah inti pemeriksaan yang pasti dilakukan oleh setiap RO yaitu:
- Refrakasi Obyektif, dengan menggunakan komputer atau autorefraktometer
- Refraksi Subyektif, meliputi:
- Identifikasi Status Refraksi, apakah emetropia, myopia, hypermetropia atau astigmatisme
- Identifikasi besaran Kelainan Refraksi
- Pengukuran/koreksi Kelainan Refraksi
- Pengujian koreksi Kelainan Refraksi
- Komponen Spheris
- Komponen Silindris
- Penentuan Titik Akhir Refraksi Monokuler
- Pengujian Beban Akomodasi
- Penentuan Ttk Akhir Refraksi Binokuler
- Diagnosa Refraksi (Tentatif/sementara)
Oklah, kita sampai pada point 3 dahulu pada Refraksi dan Penglihatan Binokuler, selanjutnya mungkin disambung pada artikel yang akan datang mengenai bagaimana otak bisa menrjemahkan objek yang dilihat mata sehingga bisa diterjemahkan sebagai objek yang kita lihat ini.
Kata kunci sehingga sampai di artikel ini adalah:
penglihatan binokuler (89), membuktikan penglihatan binokuler (15), penglihatan binokuler adalah (14), penglihatan binokuleer (2), hasil fisiologi pemeriksaan ruang monokuler binokuler (1), pemeriksaanrefraksibinokular (1), pemeriksaan refraksi atau visus (1), pemeriksaan binokuler (1), pembuktian penglihatan binokuler (1), lensa binokuler (1), tahap serta tujuan pemeriksaan binokuler (1)Komentar ke FB
Digunakan untuk pertanyaan atau komentar bersifat umum, kalau per topik harus di ceritakan dulu topiknya atau koment di form koment per topik di atas




















