By Kastam in Mata on 28-05-2009 | view : 1,899 kali |
Tags: amblyopia, anak, bayi, Kacamata, lahir, Mata, visus
Kalau terjadi kelainan mata pada bayi dan anak maka itu dapt berupa bawaan dari lahir (kongenital), kelainan mata yang menyertai sistematis tubuh, kelainan mata yang didapat dan kelainan berupa gangguan perkembangan penglihatan misal ambliopia atau mata malas atau lazy eyes yang bisa disebabkan oleh kelainan diatas.
Perkembangan penglihatan bayi dan anak sudah seharusnya tidak mengalami gangguan, karena jika ada gangguan maka akan menyebabkan kwalitas penglihatan yang tidak baik dan ini terjadi pada usia sejak lahir sampai 10 tahun.
Bayi baru lahir tidak langsung melihat, tetapi tajam penglihatannya mengalami perkembangan. Tajam penglihatan bayi baru lahir hanya bisa membedakan terang dan gelap. Akan ada perkembangan yang pesat pada usia 6 bulan pertama ini disebut periode kritis perkembangan penglihatan. Sesudah ini masih juga mengalami perkembangan sampai mencapai tajam penglihatan 20/20 atau 6/6 atau 1.0 pada usia +- 5-6 tahun. Terus….. proses penyempurnaan tajam penglihatan terus berlangsung sampai usia +- 10 tahun.
Syarat-syarat perkembangan tajamn penglihatan yang normal adalah bila kwalitas bayangan objek yang dilihat kedua mata harus jelas, sama, dan simultan diterima oleh otak selama masa perkembangan. Bila syarat-syarat ini tidak dipenuhi pada usia perkembangan, maka tajam penglihatan tidak akan berkembang normal dan terjadilah ambliopia.
Kondisi berikut perlu diwaspadai oleh para orang tua terhadap perilaku anaknya saat melihat sesuatu atau kegiatan kesehariannya, misal:
Jika memang melihat suatu objek tidak jelas, maka terdapat kelainan refraksi bisa myopia, hypermetropia, ataupun astigmastisme, dan apa yang dilakukan pada kondisi ini..? tanda-tanda yang bisa dilihat adalah bila melihat objek selalu didekatkan, menonton TV selalu dekat atau memicingkan mata atau memiringkan kepala dll. Jika terjadi demikian segera periksa mata anak anda dan mungkin perlu pemberian kacamata.
Jika saat melihat serasa ada yang menghalangi bayangan benda yang dilihatnya, ini bisa berupa kelopak mata misal ptosis (kelopak mata yang jatuh); kornea misal sikatrik (bisa nebula, makula, leukoma), keratitis, ulkus dll; bilik mata depan misal hifema, hipopion; lensa misal katarak kongenital dan badan kaca misal pendarahan, uveitis.
Jika bayangan benda yang dilihat, yang jatuh pada kedua mata, tidak sama, dan ini terjadi jika ada kelainan refraksi pada kedua mata yang beda jauh misal Anisometropia, misal Kanan S -1.00 dan Kiri S – 6.00 maka mata kanan akan lebih sering digunakan, sehingga mata kiri yang jarang digunakan akan males atau lazy eyes dan akan terjadi amblyopia.
Jika pada penderita juling/strabismus, maka kedua mata akan terfokus pada dua objek yang berbeda yang berakibat terjadi kebingungan pada otak, karena kedua bayangan itu tidak dapat disatukan atau fusi maka akibatnya mata yang juling akan disupresi atau ditekan atau ditiadakan olh otak. Akhirnya mata yang juling akan tidak berkembang secara maksimal dan mata yang satunya akan berkembang dengan baik.
Semua kelainan diatas bila terjadi pada usia lahir sampai umur 10 tahun dan tidak segera diatasi akan mengakibatkan amblyopia atau mata males atau lazy eyes, dan kalau sudah terjadi itu maka mata yang males itu diberikan ukuran kacamata berapapun ukurannya tidak menjadikan penglihatannya lebih baik atau bahkan sampai normal seperti layaknya mata yang normal.
Untuk itu perhatikan keadaan dan perilaku anak kita dalam kesehariannya apakah ada gejala seperti yang tersebut diatas. Dan jika ada tanda atau gejala seperti itu segera periksakan ke dokter mata secepatnya.
Popularity: 7%












Mau nanya pak Kastam.. apa penyebab minus pada anak terutama faktor external? karena anakku kalo main ps suka lama terus ga suka sayur wortel lagi. takutnya itu bisa jadi penyebab minus…
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
October 12th, 2009 at 9:42 am
@Agust,
Walaupun saya tidak tahu persis sudah ada survey atau belum. Kelihatannya cukup bisa di lihat faktanya antara anak usia sekolah di desa dan di kota (dalam hal teknologi informasi dan pola/jenis makanan) sepertinya sangat mempengaruhi. Di desa jarang (tidak ada berkacamata terlepas sebenarnya perlu atau tidak) dibanding di kota. Artinya faktor external ada pengaruh juga. komputer , game, fast food dan mungkin ada lagi yang lainnya.
Tanggapi Komentar ini