By Kastam in A, Penyakit Mata on 27-05-2009 | view : 1,972 kali |
Tags: Ablasi, flashes, floaters, fotopsia, Retina, vitrektomi
Artikel ini saya saringkan dari makalah dari Dr.Gitalisa A.A., Sp.M di seminar di Makassar pada bulan Agustus 2008 dalam acara Pertemuan Ilmiah Tahunan Dokter Mata se-Indonesia.
Topik sejenis yaitu ablasio retina sudah pernah saya sampaikan, namun agak singkat, dan untuk kali ini mungkin agak panjang, semoga uraian berikut bisa memberi manfaat bagi pelaksana atau penderita atau siapa saja yang ada kandidat akan mengalami Ablasi Retina untuk paling tidak melakukan pencegahan dari pada harus di bedah. Karena Pencegahan dan deteksi dini robekan retina lebih baik dibandingkan penanganan bedah. Karena faktor resiko robekan dan ablasi retina adalah usia tua, penipisan retina bagian perifer atau pinggir sehingga mudah robek atau berlubang, riwayat keluarga dengan robekan dan atau menderita ablasi retina, riwayat myopia, riwayat menjalani operasi katarak, mengalami trauma daerah kepala atau mata, serta riwayat robekan retina atau ablasi retina pada mata sebelah. Untuk itu perlu dan penting dilakukan edukasi atau penyuluhan pada subyek atau orang yang mempunyai faktor resiko tersebut. Pasien-pasien dengan faktor resiko tersebut perlu menjalani pemeriksaan rutin terhadap matanya minimal setiap 1 tahun sekali atau berkala setahun sekali.
Retina, seperti yang kita ketahui adalah lapisan saraf (neurosensoris) yang melapisi dinding dalam bola mata kita, yang mampunyai peran sangat vital dimana akan menangkap sinar yang masuk dan telah difokuskan oleh kornea dan lensa kita ke retina tepatnya di makula. Retina itu tipis sekitar 0.5 mm yang merupakan sel fotoreseptor akan menghasilkan impuls saraf kemudian diproses oleh otak sebagai bentuk gambar.
Bagaimana dengan retina yang robek atau robekan retina (retinal tear)?
Kasus ini ditemukan 6% dari populasi atau penduduk kita, jadi lumayan juga. Sebagai penyebab utamanya adalah degenerasi pada badan kaca / vitreus yang permukaannya melekat pada retina. Proses degenerasi ini adalah mulai mencairnya gel vitreus yang tadinya itu padat dan akan bergerak mengikuti pergerakan bola mata, sehingga menyebabkan terikan pada retina sehingga pasien akan mengeluh melihat kilat (flashes/fotopsia). Bahkan pada pasien normalpun dengan usia antara 50 – 70 tahun permukaan vitreus ini dapat lepas dari perlekatannya dengan retina.
Kadang, permukaan itu juga melekat sangat kuat pada retina dan ini bisa saja membuat robekan pada retina, manakala terjadi saat permukaan bagian belakang vitreus terlepas dari retina (Posterior Vitreous Detachment – PVD). Nah, jika pembuluh darah ikut robek maka akan terjadi pendarahan ke dalam vitrus (vitreous hemorrhage) sehingga pasien dengan kondisi seperti ini akan merasakan banyak bayangan benda hitam dalam lapang pandangannya atau diistilahkan dengan floaters.
Proses terjadinya Posterior Vitreous Detachment (PVD) adalah gel vitreus mencair membentuk rongga, kemudian terjadi PVD tanpa komplikasi ( bisa terjadi sampai 85%), PVD dengan robekan retina dab perdarahan vitreus ( ditemukan 10-15%), robekan pembuluh darah retina disertai perdarahan vitreus dan retina utuh (yang seperti ini jarang).
Jadi gel vitreus yang mencair akan menyusup masuk melalui robekan terkumpul di lapisan dibawah retina sehingga menyebabkan lepasnya retina (ablasi retina/retinal detachment).
Ablasi retina bisa menyebabkan kebutaan. Di Amerika tiap 10.000 – 15.000 orang per tahun ada 1 yang ablasi retina dan umumnya memerlukan pembedahan.
Gejala awal ablasi retina adalah melihat floaters/fotopsia mendadak, terus jika daerah retina terlepas menimbulkan keluhan mendadak melihat bayangan gelap atau tirai menutupi sebagian lapang pandangan, yang makin meluas. Dan akhirnya penglihatan menjadi buram jika sudah mengenai daerah makula.
Bila anda atau orang disekeliling anda mengalami keluhan seperti itu, segera periksa ke dokter mata. Apabila retina tidak terlihat misal karena terhalang perdarahan, maka bisa dilakukan USG (ultrasonografi).
Bagaimana penatalaksanaannya…?
Jika masih robekan dan belum disertai oleh ablasi, maka diberikan sinar laser atau krio (membekukan jaringan) di sekeliling robekan, untuk melekatkan retina agar cairan tidak masuk ke bawah lapisan retina, dan akhirnya bisa mencegah ablasi retina. Robekan retina ini bisa mengancam penglihatan maka harus dilakukan penanganan secepatnya dan bisa digolongkan sebagai hal yang darurat.
Jika sudah disertai ablasi retina juga perlu tindakan secepatnya, karena retina yang terlepas tidak dapat memperoleh suplai darah dari lapisan dibawahnya sehingga menyebabkan kerusakan dan penurunan fungsi retina, yang dapat menetap. Hanya dengan pembedahan untuk kasus ini, dan bisa memperbaiki penglihatan jika dilakukan secepatnya, dengan tujuan utama menempelkan kembali retina yang lepas tadi.
Jenis tindakan/pembedahan untuk ablasi retina:
- Pneumatic Retinopexy, yaitu diinjeksikan gas ke dalam bola mata, sehingga mendorong retina ke arah dinding dalam bola mata, dan menekan robekan retina hingga menutupnya.
- Scleral Buckling, dilakukan pemasangan pita silikon di sekliling bola mata, disertai spons atau ban silikon yang berfungsi sebagai buckle yang bertujuan mendekatkan retina ke dinding bola mata dan menutup robekan retina.
- Vitrektomi pars plana, dilakukan pada ablasi yang lebih kompleks. Pada operasi ini vitreus dibersihkan dari bola mata, kemudian diisi dengan tamponade udara, gas ekspansif (bisa mengembang), aau silikon cair. Dalam operasi ini memungkinkan bisa dilakukan tindakan untuk menempelkan kembali, menutup robekan dan menghilangkan segala kekeruhan didalam bola mata..
Operasi ini mempunyai tingkat keberhasilan secara anatomis bisa mencapai 90 %, namun secara fungsional biasanya lebih rendah. Biasanya kurang dari 1 minggu 75 % dapat mencapai penglihatan yang cukup baik. Namun demikian jika kondisinya sudah lanjut maka tindakan ini hanya untuk mencegah atau mempertahankan kondisinya saja dari kerusakan lebih lanjut. Sekitar 20% setelah operasi bisa lepas kembali, sehingga perlu dilakukan operasi ulang.
Demikian semoga bermanfaat untuk pengetahuan dan informasi ini bersifat informatif saja tanpa bermaksud menggantikan diagnosis ataupun teraphi yang akan diambil oleh dokter mata khususnya sub specialis retina. Sehingga orang awampun bisa untuk lebih bersiap dengan apa yang terjadi pada dirinya atau keluarganya dan tindan atau langkah apa yang harus diambil jika mengalami hal yang demikian.
Popularity: 8%












saya mau tanya tentang dokter ahli retina yang ada di Rs.Guangzhou Cina karena saya dapat referensi dari dokter Sakon dr klinik mata nusantara untuk operasi mata anak saya yang terkena ROP
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
September 10th, 2009 at 11:03 am
@Gumilar Aryotomo,

Mohon ma’af sebelumnya, saya kurang tahu.
Coba anda bisa tanya di http://www.konsulmata.com
Tanggapi Komentar ini
mata ibu saya mengalami gejala seperti apa yg dinamakan ablasi retina,apakah jika harus dioperasi bisa dilaksanakan di Indonesia??? terima kasih banyak
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
October 12th, 2009 at 9:57 am
@vinny rosalina,
Bisa sekali coba silakan hubungi Jakarta Eye Center atau KMN. Cari webnya di google yaaa
Tanggapi Komentar ini