By Kastam in Mata, RO on 01-01-2009 | view : 3,077 kali |
Tags: Kornea, limbus, Mata, PD, PD Rule, Pupil, Pupil Distance, reflek
Selamat Tahun Baru 1430 H dan 2009 M, wah saya tanggal 1 Januari 2009 tidak ada yang online di blog saya, e e malah ada pertanyaan dari Sdri. Ucha yang sedang Coass stase mata, katanya. Menanyakan tentang pengukuran PD. Yang bingung cara mengukur PD, untuk saya jawab lewat postingan aja, karena sepertinya pertanyaannya banyak, meskipoun pada artikel itu sudah saya bahas panjang lebar (kata M’ Aprilia), tapi memang masih ada yang kurang.
OK, kalau kita mengukur menggunakan PD Rule atau penggaris maka kita perlu bantuan sinar terutama pada kondisi pasien dimana iris pada matanya relatif gelap. Sinar di sini diperlukan untuk mendapatkan reflek dari retina yang bisa kita lihat di kornea. Kalau kita ukur dengan kira-kira di tengah pupil kemungkinan tidak pas benar sebagai reflek dari retina, karena seperti yang pernah saya sampaikan bahwa reflek retina itu tidak selalu pas di tengah.
Hal yang perlu diperhatikan saat mengukur PD dengan PD Rule adalah:
- Usahakan posisi pasien dan pemeriksa sejajar, baik secara horisontal maupun secara vertikal, tinggi pasien dan pemeriksa harus sama.
- Gunakan senter atau sumber cahaya yang cukup terang
- Sebagaimana pertanyaan M’ Ucha, berapa jarak pasien dan pemeriksa, jaraknya adalah senyaman kita artinya sepanjang tangan kita bisa menjangkau atau sampai di muka pasien dengan membawa PD Rule itu.
- Berikan cahaya ke mata pasien, namun jangan dari arah lurus mata pasien, namundari arah tengah sedikit ke atas atau ke bawah, dan yang harus diperhatikan adalah pandangan pasien, jangan melihat sumber cahaya itu, karena jarak itu dianggap jarak dekat yang akan mempengaruhi jarak PDnya, sehingga suruh pasien melihat jarak jauh di belakang kita atau,
- Pegang lampu senter dengan tangan kiri, sementara tangan kanan kita memegang PD Rule
- Posisikan angka nol di salah satu mata pasien misal mata kanan pasien, sementara pasien di suruh melihat di belakang kita yang berjarak jauh
- Dengan melihat reflek pada mata kanan dan kiri pasien secara bergantian dan cepat, silakan dibaca skala pada PD Rule tersebut, angka yang didapat itulah PD Jauhnya.
- Untuk PD dekatnya pasien suruh lihat hidung kita atau pegang lampu di depan kita dan pasein melihat lampu itu, maka PD yang kita ukur akan sebagai PD dekat.
Jadi yang di ukur adalah jarak sinar yang jatuh, bukan jarak pupil nya. Dikatakan M’ Ucha bahwa pernah dengar bahwa mengukur PD dengan mengukur bagian lateral salah satu kornea matanya dan bagian medial mata yang lainnya, apa itu benar?
Mungkin yang dimaksud adalah cara pengukuran limbus to limbus, itu juga bisa, yaitu caranya menempatkan skala nol pada limbus mata kanan bagian lateral, kemudian membaca skala PD rule yang di mata kiri pada posisi limbus bagian medial atau nasal. Atau sebaliknya untuk mata kanan menempatkan skala nol pada limbus nasal atau medial dan membaca skala lainya pada limbus bagian lateral atau temporal. Dan cara ini juga benar, jadi bisa juga dilakukan. namun demikian untuk tingkat ketelitian dan kestabilan posisi mata pasien pengukuran dengan cara di atas masih ada kelemahan, karena bisa jadi saat kita membaca skala pada yang kiri atau pada angka besarnya, titik point yang nol tidak tepat karena pasien bergerak matanya, nah untuk itu perlu keahlian khusus artinya baca dengan cepat dan lakukan tidak hanya sekali namun minimal 3 kali, jika hasil beda cari rata-ratanya.
Jadi yang paling bagus adalah dengan menggunakan Pupilometer Digital, kalau gak punya, yaaa gunakan cara diatas saja.
Popularity: 18%











Saya sensitif sekali dengan pupil distance. PD saya skrg 62. Pernah saya salah dikasi 64, dan akibatnya saya pusing sekali dan jalan serasa bergerak.
Sekarang ini saya baru ganti dua pasang lensa kacamata, dan sayangnya keduanya PDnya meleset. Satu pasang 61, pasang yg lain 63. Akibatnya kembali saya lumayan pusing.
Apa ada akibatnya jika PD itu tidak tepat? Efek jangka panjangnya??
Terima kasih untuk membantu
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
March 1st, 2009 at 3:00 pm
@Sonix,
Memang secara umum, ada toleransi untuk sesorang bisa diberi PD yang tidak tepat, namun demikian ada juga yang tidak bisa terima atau sangat sensitif dan juga pernah punya pasien seperti itu, sehingga buat saya yaaa saya kembalikan ke lab (waktu itu Melawai) dan minta di buatkan yang benar-benar pas.
Gambarannya adalah, kita perlu fokus atau titik focal itu tepat, ibarat busur melesat itu lurus tepat di sasaran, nah kalau meleset maka yaa nggak tepat dan ada ada efeknya, umumnya adalah pusing, karena misal PD di buat lebih besar maka mata kita yang akan mengikuti PD kacamta itu jadinya mata kita ketarik ke luar, sedang otot mata kita tidak mau atau tidak bisa menerima atau tidak mau beradaptasi, jadinya pusing, begitu juga sebaliknya.
Efek jangka panjang yaaa kalau di buat PD lebih besar maka anda akan terbiasa dan kondisi mata akan muncul efek PRISMA kayak orang yang juling. Tentu mesti di lihat berapa pergeserannya dan berapa ukurannya.
Sevagai gambaran, jika seseorang minus 10.00 D , dengan bergeser 1 mm dari seharusnya maka seperti di beri Prisma 1.
1 Prisma itu seolah memindahkan 1mm bayangan benda yang kita lihat pada jarak 1 meter. Coba cari tentang prisma yaaa..
Ini sekalian menjawab koment anda di http://optikonline.info/konsultasi-online-2#comment-1106
Tanggapi Komentar ini
Makasi pak sarannya..
Hmmm, kalo gt jadi sarannya saya ganti ke 62 semua ya? ataukah satu aja yg saya samakan ke yg lain? toleransinya sampe berapa si pak?? orangnya si bilangnya toleransi 1-2 mm. tapi karena dua kacamata ini saya pakai, jadinya PD saya serasa berganti2 gt, 61,62,63,61,63,dst..
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
March 1st, 2009 at 6:39 pm
@Sonix,
Memang benar untuk toleransi 1-2 mm dan itu tergantung ukurannya. Semakin besar semakin kecil toleransinya.
Sebaiknya kalau memang benar-benar bikin pusing, coba ganti 1 dulu yang paling anda sukai dan akan sering anda pakai. Setelah ternyata nyaman baru satunya lagi.
Tanggapi Komentar ini
@Kastam, (nimbrung komen y mas…
. Potensi ketidaknyamanan pada pemakai kacamata biasanya bukan semata2 karena PD yg salah atw ada selisih dg DV kcmata sebelumnya. Boleh jd jenis atw disain lensanya jg berbeda, atw dr fittingnya? Tp okelah klau mau dibidik dr PD-nya, (sekedar saran/himbauan), yuk qta biasakan ngukur MPD-nya juga, klo perlu skalian sama PV-nya. Dijamin pasti aman. tq
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
March 27th, 2009 at 1:03 pm
@anggoro,
Betul mas, khan judulnya PD.
Ntar kalau ada sub topik lagi…
banyak belum ketulis semua……
Di sambi aja kok…
Setuju…
Tanggapi Komentar ini
mas q maw tanya q kan dpat tgas suruh jelasin.Vertikal adalah gerakan yang bercorak seperti yang Anda lakukan dengan eksekutif. Menganggap bingkai ukuran 74mm, dekat PD 60mm, seg height 14mm, B ukuran 40mm, 5 seg penempatan di bawah 4, bingkai mata lama pengukuran 56mm. 74 – 60 = 14 horizontal. 40 ÷ 2 = 20 – 14 = 6 bawah. Sejak seg bawah sudah digunakan 4mm vertikal dan horizontal, total 8mm. 56 + 8 = 64mm. Menambahkan 2mm toleransi, 66mm yang kosong yang terkecil lensa kosong dapat membuat resep ini. Anda telah selesai adalah yang berpola satu visi lensa secara vertikal dan horizontal, dengan mempertimbangkan penempatan yang nonmovable-titik yang seg. itu maksudnya apa?
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
April 13th, 2009 at 1:15 pm
@sylvee,
kali ini aku bingung dengan maksud pertanyaaanya…
Ada yang bisa bantu…?
Tanggapi Komentar ini
anggoro Reply:
April 13th, 2009 at 3:12 pm
@sylvee, maaf tugas ini hasil terjemahan (translasi) bebas bukan? Klo benar, coba aj tulis teks aslinya. tq
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
April 13th, 2009 at 5:16 pm
@anggoro,
kalau menurut mbah Gooogle jadinya begini mas:
Vertical movement is figured as you would with the executive. The frame size of 74mm, 60mm near PD, seg height 14mm, 40mm size B, 5 seg placement under 4, a frame of 56mm long measurements. 74 – 60 = 14 horizontal. 40 ÷ 2 = 20 – 14 = 6 under. Since seg is used under the vertical and horizontal 4mm, 8mm total. 56 + 8 = 64mm. Add 2mm tolerance, the 66mm lens is the smallest blank that blank can make this recipe. You’ve finished the one who figured vision lens vertically and horizontally, by considering the placement of the point-nonmovable seg.
piyeeee kie…
Tanggapi Komentar ini
anggoro Reply:
April 13th, 2009 at 9:43 pm
@Kastam, hehehe…teu2p ora mudhenk mas…nebak2 ntar salah lg. Nyang laen ngkali…
Yaa….soale merupakan potongan dadi ora mudheng (termasuk aku)..tapi kira-kira cara menentukan Effective Diameter dengan patokan lensa Lensa Executive (E Line.
Tanggapi Komentar ini
Kastam Reply:
April 14th, 2009 at 12:10 pm
@Soegeng Ibrahim,

Kira-kira yaaa seperti itu…
lagian jenis lensa purbakala itu khan dah langka yaaaa….
Tanggapi Komentar ini
Saya ingin beli mesin autorefraktor, tapi dengan harga yg tidak terlalu tinggi/mesin baru lho. Merk apa yg bagus, tolong berikan saya penawaran di email saya. trims
Tanggapi Komentar ini