Pemeriksaan Astigmatisme 2
22 September 2008 | Belum ada komentar
Sebelumnya anda harus sudah membaca artikel pemeriksaan hypermetropia atau pemeriksaan myopia terlebih dahulu.
Silakan baca dan berhenti pada:
Berarti sekarang kita harus ubah haluan dengan menambahkan lensa minus, misal -0.50 (pemberian ukuran kita usahakan yang lebih memberikan perubahan yang signifikan, misal jika pasien hanya bisa melihat huruf E besar yaitu 20/400 maka penambahan +- 0.50 kurang berasa, maka anda bisa langsung memberikan penambahan +- 1.00 atau +- 2.00. Tapi kalo pasien udah bisa melihat pada visus misal 20/30 atau 20/25 maka penambahannya bisa +- 0.25. Begitu lebih efesien dan efektif Nah, pasti dengan penambahan -0.50 penglihatan lebih baik, namun jika tidak lebih baik itu juga bisa saja terjadi karena bisa jadi pasien hanya astigmat saja atau ada kelainan organik. (Karena tidak dalam topik ini maka kita lewat dulu)
- Setelah penambahan baik - atau + ternyata visus tidak bisa sampai 6/6 atau 20/20 maka lakukan pin hole tes, caranya ada di pemeriksaan hypermetropia.
- Kita anggap pasien visusnya maju dengan pin hole, sehingga dugaan atau diagnosa sementara adalah adanya astigmatisme.
- Untuk pembahasan kali ini saya ingin menggunakan teknik CC (Cross cylinder +- 0.25) menggunakan phoroptor dan satu lagi dengan teknik Fogging (pengaburan) akan di bahas di lain waktu InsyaAllah.
- Setelah BVS dan tidak 20/20, maka Langkah pertama adalah mencari axis.
- Asumsi kita adalah tidak ada komputer atau kacamata lama, jadi blank dari awal…
- Pasang CC pada tempatnya (di depan mata) dengan posisi pemutar ada pada 45°, dengan objek berupa dots atau titik-titik.
- Tanyakan pada pasien mana posisi yang kelihatan titik-titik itu bagus bentuknya, tidak menceng-menceng, tidak ada bayangannya.
- Beri pilihan dengan memutar alat pemutar pada phoroptor tersebut, pilih posisi pertama atau kedua.
- Patokannya adalah kita selalu mengejar titik merah di mana pasien menjawab bagus bentuknya.
- Misal, saat pertama pemutar pada 45° titik merah berada di 90° dan titik putih ada di 180°, sedang setelah dilakukan pemutaran sekali maka titik merah akan berpindah ke 180° dan titik merah berada di 90°, sedang pasien memilih posisi kedua lebih baik maka arah pergerakan axis pasien tersebut adalah ke arah hosrizontal atau ke arah 180°.
- Berapa gerakan yang kita lakukan untuk merubah axisnya?
- Kita bisa melihat dari 90 kita posisikan di 45 berarti setengahnya, maka selanjutnya kita bisa bergerak sejauh 22.5° atau karena hal itu sulit maka kita bulatkan saja bergerak sekitar 20°, selanjutnya 10°, selanjutnya 5°, maka setelah itu sebenarnya axis pasti sudah ketemu.
- Prinsipnya adalah mempersempit daerah axisnya.
- Untuk kasus di atas maka kita arahkan axis dengan memutar roda CC ( bukan pemutar), ke posisi 25° (roda pemutar lurus dengan 25°)
- Selanjutnya kita putar lagi dengan pertanyaan yang sama: Bapak Kastam coba bandingkan mana yang bentuk titik-titiknya lebih bagus, posisi pertama ( titik merah di 160°) atau posisi kedua (titik merah di 70°), jika di jawab posisi pertama maka roda CC di gerakkan mengikuti arah titik merah yaitu kearah 0° sejauh 10°, sehingga roda pemutar sekarang lurus dengan posisi 15°.
- Begitu seterusnya sampai ketemu 5° pergerakkannya.
- Jika pasien bingung maka anda harus bisamengambil inisiatif untuk berhenti dan akan mengevaluasi lagi setelah power di ketemukan.
- Kapan axis di nyatakan ketemu?
- Jika sudah sama bagus bentuk titik-titiknya pada kedua posisi, atau hampir sama atau bahkan sama jelek juga.
- Selanjutnya kita mencari power cylindernya….
- Kita lihat pemeriksaan astigmat session ketiga yaaa….
Popularity: 8%
Komentar/Saran/Kritik
Ada yang ingin anda sampaikan?



