Beberapa waktu lalu ada yang tanya tentang base curve Lensa kacamata dan base curve lensa kontak. bagaimana dasar pehitungannya dan sebagainya.
Baiklah, bagi anda Refraksionis Optisien tentu udah pernah menjalani apa yang di namakan praktek lab yaitu penggosokan, mungkin tiap kampus juga beda namanya, tapi itulah nama yang ada saat saya dulu, tahun 1992 an di AROS (Akademi Refraksionis Optisien Surabaya).
Kita tengok ke belakang dulu atau ke dasar duluu bahwa lensa yang populer di kembangkan pada awalnya adalah lensa standart dari bahan glass yaitu crown glass dengan indek 1.532. Dan itu yang akhirnya di buat dasar perhitungan dari tool atau blocknya saat penggosokan dengan dasar crown glass itu.
Perhitungannyapun sangat sederhana, yaitu seperti matematika biasa. misal kita ingin membuat S -3.00 D, biasanya base curve blank (lensa masih buram kedua sisinya) adalah 6. maka langkah pertama adalah pemilihan tool untuk blockingnya yaitu misal block perempuan untuk membentuk base bagian depan 6 dan untuk block laki-laki yaitu untuk membentuk permukaan bagian belakang lensa adalah 9.
Jadi gampangannya -9 – (+6) = – 3.00 D, ini hanya berlaku untuk jenis lensa crown glass. Dan jika kita menggosok lensa Glass jenis lain misal HI 1.7 maka perlu perhitungan lagi untuk menentukan base masing-masing dengan memperhatikan perbandingan antara crown glass dengan bahan yang akan di gosok. Karena misal kita menggosok bahan HI dengan tool block seperti contoh di atas mak hasilnya bukan -3.00 tapi bisa lebih 30% nya.
Dasar perhitungannya:
==> 1.700 / 1.532 = 1.107
==> 1.107 x (-3.00) = -3.325 Dioptri
Begitulah kira-kira. Namun di zaman sekarnag yang denganteknologi komputer tentu tidak seperti itu dan jauh lebih canggih dengan tingkat detail yang sangat kecil. Hanya dengan input beberapa parameter saja maka lensa keluar sudah menjadi ukuran yang di inginkan. Tentu proses pertama adalah dengan roughing membentuk permukaan sesuai dengan power ayng di inginkan dengan base curve tertentu, hasilnya memang belum bisa terukur dengan lensometer karena masih buram, selanjutnya masuk ke proses polishing I dengan bubuk abrasive yang warna merah untuk menghilangkan noda-noda yang besar , berapa yaa kodenya 309 atau berapa yaaa, dan itu udah bening namun kemungkinan masih ada noda kecil sekali yang masih ada dan di lanjutkan dengan poloshing II dengan bubuk wana putih, juga lupa kodenya, maka noda kecil yang mungkin ada akan hilang dan lensa jadi udah bening cling, dari sini udah bisa di lihat powernya melalui lensometer.
Sampai di sini lensa masih uncoat, selnjutnya jika lensa plastik dan ingin di beri warna maka di warnai dulu kalo glass yaaaa tidak bisa di warnai di lab biasa maka tidakdi warnai dan selanjutnya di coating untuk anti refleksi. Beda dengan plastik sebelum di coating anti refleksi maka perlu di tambahi lapisan hard coat untuk tahan gores dan selanjutnya baru di coating anti refleksi.
Jadi deh sebuah lensa yang siap di pakai.
Sebenarnya saya sedang nungguin materi dari Mas Darmono dari ARO yang di Kerawang, namun belum kunjung jadi, nanti kalo udah jadi segera saya posting topik penggosokan.



















