Mau Jualan Peci?, Di sini Grosir Termurah!!!
Powered by MaxBlogPress 

 

Optik Keliling

11 March 2008 | 27 Komentar

Wah, istilah ini semakin keren, e e e eapanya yang keren, maksudnya di kalangan para RO dan orang yang berkecimpung dalam bisang optik, istilah ini sudah sangat familiar.

Namun bagi anda yang belum tahu, maka simak ulasan berikut:

Namanya juga ‘keliling’, berarti pindah-pindah dan mutar-mutar, e e masak yaaa ntar pusing lho, kayak kacamata yang overcorection.

Maksudnya adalah ada optik yang cara memasarkan kacamata dan sunglassnya tidak toko atau optik, melainkan dia menjemput bola, yaitu pergi ke suatu tempat dan melalukan transaksi di sana.

Contoh, seorang RO dengan alat periksa Trial frame dan trial lens pergi ke sekolah SD, SMP dan sebagainya kemudian melakukan pemeriksaan kepada murid-muridnya, biasanya periksanya Gratis, nah… setelah di periksa dan ternyata ada yang berukuran kacamata maka ditawarin tuh murid dengan kacamata yang di bawa. Bisa Cash atau kredit tergantung dari kesepakatan, kadang juga termasuk guru-gurunya sekalian di periksa.

Dalam hal ini jika anda bukan RO dan ingin membutuhkan layanan serupa silakan kontak saya di 081585009643, namun saran saya jauh lebih baik jika anda sudah punya resep dokter atau resep kacamata yang di ukur di optik yang sudah mempunyai standart alat dan tempat yang memadai, supaya hasilnya jauh lebih sempurnaaaaaa….., kayak ringtone.

Gimana, anda tertarik mau jadi Optik keliling? Hubungi saya juga…. Ha ha ha

Popularity: 51%

Komentar/Saran/Kritik

27 Komentar pada artikel “Optik Keliling”

  1. emin pada 21 March 2008 9:05 pm

    wah mas…..
    iya klo RO yang keliling……….
    klo cuma mau duit tanpa disertai keterampilan dan pengetahuin yang cukup……..
    wah bisa pening kepala………..
    =)

  2. Kastam pada 23 March 2008 7:51 pm

    Yaa harus yang udah punya ketrampilan dong, ntar mata orang bisa di buat pusing tujuh keliling. Dong.

    Jadi harus benar-benar yang profesional, betul nggak?!

  3. ANGGORO pada 27 March 2008 12:00 pm

    istilah kerennya mobile optical mas. tapi kalo saya biasa nyingkat jadi OPTIKEL alias optik keliling. yg penting jangan asal just duit, tapi hrs objektif dan profesional. yang pada mal praktek waspadalah, ada malaikat yg menyertai anda.

  4. kastam pada 28 March 2008 9:27 am

    Wah, benar juga Mas Anggoro.
    Tapi kelilingnya khan cuma Indonesia, kalo pakai bahasa yang keren gitu ntar ggak kena sasaran.

    Kalo OPTIKEL, agak panjang yaaa, gimana Kalo OpKel, e ee itu khan milik Melawai Group yaaa, ntar di kira Optik Keluarga .

    Ya udah yang pasti boleh keliling asal tidak bikin pusing.

  5. wezoen pada 6 April 2008 4:51 pm

    Menurut KepMenKes No.1424-MENKES-SK-XI-2002, Bab V (Ketentuan Khusus), Pasal 12:

    (1) Dalam rangka mendekatkan jangkauan layanannya kepada masyarakat,
    optikal diperkenankan menyelenggarakan pelayanan optometri lapangan di
    wilayah Kabupaten/Kota/ Kecamatan yang belum memiliki optikal dan masih
    berada dalam satu propinsi dengan optikal tersebut.
    (2) Pelayanan optometri dalam rangka pemerataan pelayanan ini hanya dapat
    dilakukan secara bergiliran/bersama oleh optikal-optikal yang sudah memiliki
    tenaga refraksionis optisien dalam jumlah memadai.
    (3) Pelayanan optometri lapangan sebagaimana dimaksud ayat (1) harus
    dilakukan sesuai dengan standar profesi.
    (4) Pelaksanaan pelayanan optometri lapangan sebagaimana dimaksud pada
    ayat (1) dan (2) harus mendapat izin dari Kepala Dinas Kesehatan
    Kabupaten/Kota dan diketahui oleh Kepala Puskesmas setempat.

    Jadi, mestinya nggak boleh tuh kelilingan sembarangan.

  6. Kastam pada 7 April 2008 9:04 am

    Nah, ini baru yang benar, saya sangat setuju. Tapi bagaimana dengan yang sudah ada sekarang.

    paling tidak Undang-Undangnya jelas, jadi harus di ikuti, yaitu, punya optik, punya izin, ada optometris atau RO nya, dan tentunya yang profesional.

    Gimana pak Wezoen, bapak atau ibu yaaa dan dari mana yaaa…
    Wah seneng aku, banyak yang komentar.

    kapan giliran yang lain?

    Tapi standar profesi RO itu seperti apa yaaa…

  7. emin pada 7 April 2008 10:32 pm

    hehehe
    dasar aturannya dah jelas…
    jadi kapan nih
    pemerintah daerah di tiap masing-masing kota
    mengaplikasikan peraturan tersebut….

    klo ga mulai kapan bisa terwujud
    klo bukan kita
    sapa lagi yang peduli….

    hayo
    maju teruz

  8. Kastam pada 8 April 2008 3:09 pm

    Maju kemana mas, lha wong depanku ada komputer n tembok?

  9. emin pada 8 April 2008 8:47 pm

    wakakaka
    poko`nya maju aja……….
    libas semuaaaaaa

  10. vny pada 26 April 2008 8:08 pm

    optikel memang udahmenjadi istilah yang booming…. tapi jangan hanya mencari pemasukan saja ya …..inga….inga ….koridor yang ada. Apalagi kita sebagai seorang praktisi optisi………………..

  11. vny pada 26 April 2008 8:13 pm

    mau nibrung lagi………………..nich.thanks bangeeeets untuk semua informasi dunia optik, sangat membantu sekali apalagi kita sebgai seorang R.O. sekalian Numpang nyapa bwt emin dimakasar…..gimana kabarnya?

  12. Kastam pada 28 April 2008 1:32 pm

    Terima kasih VNY, siapa dia yaaa?

    Betul dans etuju banget, tentang tugas ke RO an kita.
    Sip deh.

    Halo Emin ada salam, lama kok nggak nongol lagi banyak orderan yaaa?

    Bagi-bagi dong!!

  13. wahyu pada 7 June 2008 8:22 pm

    nyikapin optik keliling….gampang2 susah tuch mas! menurutku,kayaknya perlu pendekatan persuasif. Kita yang RO selayaknya harus mulai membenahi pencitraan Optik Keliling. Yang paling sederhana, kalo kita “terpaksa” harus ikutan keliling…. selain “JUST DUIT” alih-alih sekalian nglakuin gebrakan promotif &edukatif, misal : ngenalin profesi RO ke masyarakat, memberi penyuluhan kalo pemeriksaan refraksi hanya dilakukan oleh RO dan dokter mata, plus biar lebih TOP selain periksa mata ditambahin konsultasi ttg kesehatan mata dan keluhan2 refraksi.
    Aku yakin, lama2 masyarakat ( baca: langganan optikel ) akan semakin pintar dan lebih selektif terhadap OPTIKEL. Piye mas?
    Semoga tambah sukses!
    Salam, WAHYU KUSUMO

  14. Kastam pada 10 June 2008 9:41 am

    @ Mas Wahyu:
    Setuju mas Wahyu, karena memang sampai saat ini di kantor-kantor aja belum mau mengakui resep dari RO. Tapi banyak sekali perusahaan yang bekerja sama dengan Optik Keliling untuk melakukan pemeriksaan dan membuat kacamatanya. Padahal “kadang” pemeriksaannya bukan oleh RO.

    Memang kalo tidak dari kita sendiri, terus siapa?
    Makanya sambil berjalan boleh dong infokan blog ini ke yang lain, biar kita bisa sharing…

  15. Wahyu B Kusumo pada 15 June 2008 10:24 pm

    Numpang nimbrung lagi ya mas…………!!!
    Nitip salam buat mas Anggoro, apa khabarnya ? Lama gak kedengaran khabarnya, mesti udah banyak duit tuch !
    Mas…..sekali-kali tolong dibincangin masalah prisma plus pemeriksaan strabismus dunk!
    Tx bgt! Semoga tambah sukses!
    SaLAM, wahyu

  16. Kastam pada 17 June 2008 6:03 am

    Ya Mas Wahyu,
    Salam langsung ke yang bersangkutan aja, yaaa semoga mampir ke sini.
    Untuk artikel prisma udah saya bahas silakan si cari di search atas.
    Untuk pemeriksaan strabismus di siapkan dulu yaaaa…
    Kunjungi terus aja, siapa tahu mendadak muncul :))

  17. khasan pada 26 September 2008 12:59 am

    wah…ada optik keliling juga nih……mau ikutan dong.
    menurut pandangan dan pengalaman saya optik keliling itu banyak yang memandang sebelah mata dan tidak bisa dipertanggung jawab oleh sebagian pebisnis yang umumnya baru mengenal dunia optik, padahal optik keliling itukan sama saja dgn optik yang ditempat atau yg ada tokonya disitu ada RO nya ada kacamata yg dijual dan tentunya adatransaksi jasa pelayanan yang profesionalisme dan bisa dipertanggung jawabkan, hanya bedanya optiknya pindah2 .
    saran saya gimana para mania OPTIKEL untuk membentuk paguyuban atau organisasi optik keliling dimana qta bisa saling bertukar pengalaman atau sheringlah yang selama ini banyak kita hadapi permasalahan dan problem suka duka terhadap coustomer dan rekan seprofesi….
    gimana ??? setuju ngak

  18. wawan pada 7 October 2008 9:10 pm

    Salam kenal mas Kastam…. Saya Wawan, dulu pernah bekerja di salah satu Optik di Semarang. saya tertarik untuk menjalankan Opkel. Mohon saran atau petunjuk bagaimana memulai menjalankan Opkel. Terimakasih sebelumnya…

  19. Kastam pada 10 October 2008 11:33 am

    Sebenarnya, asal ada frame, alat periksa dan pemeriksanya, atau pakai resep dokter, anda sudah bisa menjalankannya.
    Prosesnya: datangi instansi atau sekolah atau RT atau lembaga apa saja, bawa alat dan frame anda langsung tawarkan. Berikan pemeriksaan gratis dan tawarkan bagi yang ada kelainan refraksi.

    Cara lain, buat proposal pengajuan ke kantor-kantor untuk melakukan kerja sama dan penawaran untuk pelayanan bidang optik.
    Tunggu responnya.

    Dah, silakan di mulai..
    Siapkan alat dan barangnya, kalo tenaga cukup anda sendiri saja.
    :)

  20. sony pada 17 November 2008 12:29 pm

    Optik keliling ini adalah salah satu kasus yang menarik Mas. Mesalaah ini sempat dibahas pada Munas Gapopin Beberapa tahun yang lalu di Hotel Sahid Jakarta. Dalam pembahasan tersebut memang tidak ada kesepakatan apapun tentang keberadaan Optik keliling ini. Hanay saja sempat diutarakan ke audience bahwa kasus ini adalah menyagkut Kehidupan (baca: Dapur) Orang lain. Justru yang harus ditekankan disini adalah edukasi kepada masyarakat tentang arti pentingnya pemeriksaan mata secara berkala dan pemahaman tentang apa sebenarnya industri Optik itu. Jika segala edukasi ini sudah disampaikan dengan baik dan benar maka diharapkan akan muncul kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mata dengan baik dan benar juga.
    Tentang keberadaan optik keliling, tidaklah menjadi sesuatu masalah yang harus diributkan selama para praktisi optik keliling itu memiliki syarat2 yang harus dilengkapi dalam suatu praktik perkacamataan.

  21. Kastam pada 18 November 2008 9:44 am

    Yaaaa, begitulah seharusnya.
    Banyak pendapat yang harus di dukung, bahwasanya konsumen atau pasien itu prioritas, artinya tenaga optik keliling juga harus profesional, sehingga kacamata yang di berikan memang bertujuan untuk merehabilitasi tajam penglihatan yang kurang, bukan semata orientasi bisnis…
    :)

  22. Jdodor (di Klang) pada 19 November 2008 10:06 pm

    Lah saya nak ikut bicara soalan optikal.
    Aduh kok seperti ini yah cara kerja orang Indonesia, ada orang ahli kok pusing-pusing (keliling)’ Klo namanya seorang ahli optometris ya harus berada di tempat yang standart (sesuai aturan kesihatan) klo pusing sudah jelas target is money saja tuh. Klo Indonesia bilang matre doang lah (sorry). Klo memang kerja nak sungguh sungguh ikuti nasihat penguasa (peraturan, Undang-undang, hukum kesihatan),
    Pada akhirnya orang awam yang jadi korban klo tak ada profesionality sama sekali. Dosalah awak.
    Kita dah banyak dengar dari kawan-kawan di Batam klo orang sesiapa saja boleh jualan kacamata ukur, wah itu sangat seronok bagi kita orang ahli profesionality kesihatan bahagian optometris ( Indonesia = Refraction of Optometris)
    Bagi kita pakai pusing-pusing tuk mendapatkan money sungguh hina…ya tak?
    Nih saran kita : *tunjukkan profesionality dengan menempati place yang standart kesihatan.
    *Ingat optometaris bukan pedagang kacamata ukur tetapi ahli profesonality
    kesihatan mata di bahagian rehabilitation visus.
    Okey, siapa yang nak lanjut study ke Optometris ? lihat lah nanti perbezaannya….sunggguh beza. tak ada pusing pusing kita. Semua profesionality dan sociality dalam job. Ok. Baravo RO di Indonesia

  23. Martinus pada 20 November 2008 9:31 am

    Sory banget pak jadi pengen ikut ngomong masalah opkel ( yang mas anggoro sebut MOBILE OPTIC )……………..
    Salam buat mas anggoro, khasan,mas wahyu dllnya
    Optik keliling pada prinsipnya sama dengan kegiatan optikal lainnya ( optik retail ) yang membedakan hanya menjemput bola saja.Masalah legal ataupun tidak legal jangan terlalu dipusingkan .KENAPA ? Yang punya retail optik atau fixed optik saja belum memenuhi syarat kelegalan, contohnya : apakah mereka mempunyai SIK , SIRO, SIPO dan kelengkapan dokumen optik lainnya. Bagi yang punya retail jangan merasa disaingi. Marketnya sangat jauh berbeda. Justru dengan optik keliling ikut menyukseskan world Vision 2020.Bukan saya membela mereka tapi lihat manfaatnya :
    1. Customer mempunyai pilihan pembayaran
    2.meningkatkan taraf hidup pelaku optik keliling
    3. meningkatkan pengetahuan / pengenalan sampai masyarakat tingkat bawah
    4. Menunjang program pemerintah / internasional dalam mewujudkan world vision 2020
    Jadi ya begitulah….

  24. Martinus pada 20 November 2008 9:54 am

    Salam,
    Mas anggoro sekarang dimana ? buka optik dimana ? Saya tinggal di bekasi tapi gak pernah ketemu. Pak kastam ada gak contact person nya mas anggoro, aku nyari2 nih….

    Martinus
    leprindo 17
    e-mail : martinus@surgika.com
    martinus_app@yahoo.com
    0815 86 151553

  25. Martinus pada 20 November 2008 10:17 am

    Saya punya kisah yang bisa dijadikan bahan renungan bagi yang tidak pernah menjalankan optik keliling, begini ceritanya……………
    Februari 2005 saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari sebuah optik di bilangan kelapa gading. Padahal saya tidak mempunyai pekerjaan/ belum mendapatkan cadangannya. Tragisnya hidup di jakarta yang serba mahal dan kebutuhan sehari - hari seperti cicilan rumah, biaya anak sekolah dan lain2nya tetep harus dipenuhi. Sebagai RO dan sekaligus kepala rumah tangga saya wajib dan harus tetep memenuhi hal tersebut. Akhirnya optik kelilinglah yang menyelamatkan kehidupan ekonomi saya. Kenapa saya pilih jalan itu ? karena saya sudah coba untuk melamar ke outlet2 tapi hanya digaji 1,5jt an. saya gak mungkin menerima itu karena sangat menjatuhkan mental saya karena sebelumnya saya bekerja secara profesional dan digaji jauh dari angka tsb.Begitulah…akhirnya dengan waktu akhirnya saya mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari pekerjaan 2 saya sebelumnya.6 bulan kemudian.
    Pak kastam aja masih mau menjalaninya ..padahal sekarang sudah mapan secara pekerjaan dan finansial…yo ga pak ?

  26. Martinus pada 20 November 2008 10:24 am

    Sambungannya…………..
    Sampai hari ini saya masih menjadi bagian dari yang orang sebut optik keliling. Dan saya sangat tidak setuju jika disebut tdk profesional, Kenapa ?
    Sekarang saya bekerjasama dan telah menjadi bagian dari sebuah rumah sakit besar di jakarta karena saya membuka gerai optik di rs tersebut. RS ini memiliki marketing yang sangat handal sehingga sampai sekarang memiliki kerjasama dengan lebih dari 200 perusahaan asuransi dan 400 perusahaan besar termasuk tambang terbesar di Nusatenggara dan Juga Papua. MCU ( medical Cek Up ) selalu menyertakan keterlibatan dokter yang ahli di bidangnya termasuk seorang SpM ( dokter spesialis mata ), dengan membawa autoref dan perlengkapan ref lainnya, . Kita tinggal terima resepnya. Profesional gak ?
    Thanks to all………..
    Martinus

  27. Kastam pada 20 November 2008 3:49 pm

    @ Jdodor:
    Terima kasih atas kunjungannya, tentu profesional harus di junjung tinggi, namun tempat serta pengabdian ke masyarakat itu ada di mana-mana, bisa di RS, klinik, Optik dan juga mendekatkan diri ke masyarakata luas yang mungkin di daerah itu tidak tenaga ahli seperti dokter mata padahal masyarakat itu perlu kacamata.

    @ Martinus:
    Terharu mendengarnya…
    Sukses yaaa dan rajin kunjungi blog anda ini, berilah saran dan komentar yang bisa membangkitkan dunia RO kita

Ada yang ingin anda sampaikan?





Ngobrol Yuk...

Atau..... Komentar di bawah?


SM

Cari artikel [Google]

Mungkin perlu...

Formula Bisnis

Grosir Peci Tanah Abang, Termurah terlengkap Online lagi

Live Traffic

Andakah di bawah ini?